Wah, Nasabah Bank AS Ini Tarik Dana Rp 1.523 Triliun!

SAN FRANCISCO, CALIFORNIA - MARCH 16: A pedestrian walks by a First Republic Bank office on March 16, 2023 in San Francisco, California. A week after Silicon Valley Bank and Signature Bank failed, First Republic Bank is considering a sale following a dramatic 60 percent drop in its stock price over the past week. The bank also received $70 billion in emergency loans from JP Morgan Chase and the Federal Reserve. Justin Sullivan/Getty Images/AFP (Photo by JUSTIN SULLIVAN / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

First Republic Bank, Bank Regional Amerika Serikat (AS), mengungkapkan permasalahan mengerikan yang membayangi bisnisnya, Senin (24/3/2023) waktu setempat. Hal itu merupakan buntut dari krisis bank AS beberapa bulan lalu.

Dalam paparan publik https://lahan-duit.site/ hasil kinerja kuartal pertamanya dengan analis Wall Street, eksekutif bank hanya menyediakan 12 menit sambutan dan menolak untuk menjawab pertanyaan. Hal ini tentu membuat publik dan para investor bingung.

“Saat bank merasa hanya memiliki sedikit pilihan, ia mulai bermain dengan aturannya sendiri,” kata Analis Bank di Janney Montgomery Scott Timothy Coffey, dikutip dari nytimes.com, Selasa (25/4/2023).

“Setiap hari, setiap minggu, dari sekarang sampai kapanpun, permasalahan ini akan menjadi pertarungan bagi mereka,” timpalnya.

Namun, satu hal yang pasti, bank yang melayani banyak klien kaya raya ini selama kuartal pertama kehilangan simpanan nasabah sebesar $102 miliar atau Rp1.523 triliun, atau Rp1,5 kuadriliun (Rp14,940/1 US$).

Angka itu lebih dari setengah simpanan yang dipegang First Republic Bank pada akhir tahun lalu, yaitu sebesar US$176 miliar, atau Rp2,6 kuadriliun. Ditambah, ini tidak termasuk bantuan sementara sebesar US$30 miliar setara Rp448,2 miliar yang diterimanya dari bank-bank terbesar di negara itu bulan lalu.

Dalam periode yang sama, First Republic Bank pun meminjam US$92 miliar atau Rp1,37 kuadriliun, yang sebagian besarnya diambil dari Federal Reserve dan kelompok pemberi pinjaman yang didukung pemerintah.

Hal ini dilakukan dalam rangka mengganti simpanannya yang hilang dengan pinjaman. Tentu, hal ini adalah jalan yang berbahaya bagi bank mana pun, yang umumnya melakukan bisnis dengan menerima simpanan pelanggan yang relatif murah sambil meminjamkan uang kepada pembeli rumah dan bisnis dengan tingkat bunga yang jauh lebih tinggi.

Meski demikian, First Republic Bank tercatat masih menghasilkan uang. Bank itu melaporkan laba triwulanan sebesar US$269 juta atau Rp4,01 triliun, turun sepertiga dari tahun sebelumnya. Pinjamannya pun lebih sedikit dari kuartal sebelumnya karena sentimen eksekutif industri yang khawatir tentang resesi.

Atas hal ini, saham First Republic Bank turun sekitar 20%, setelah naik lebih dari 10% sebelum laporan laba dirilis. Penurunan harga saham ini semakin memburuk setelah eksekutif menolak menjawab pertanyaan dari analis.

Sebelumnya, harga saham First Republic Bank turun lebih dari 85% sejak pertengahan Maret. Bank mengatakan bahwa eksodus depositnya sebagian besar berhenti pada minggu terakhir bulan Maret.

Dari 31 Maret hingga 21 April, bank mengatakan kehilangan hanya 1,7% dari simpanannya dan sebagian besar penarikan itu terkait dengan pembayaran pajak oleh kliennya.

Kemerosotan dimulai kira-kira enam minggu lalu, ketika Silicon Valley Bank dan Signature Bank diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan AS, buntut krisis mini yang terjadi. First Republic Bank, yang berbasis di San Francisco, secara luas dipandang sebagai pemberi pinjaman yang kemungkinan besar akan jatuh berikutnya.

Penilaian ini didasarkan karena First Republic Bank memiliki banyak klien di industri pemula atau start up, mirip dengan Silicon Valley Bank. Ditambah, bank ini memiliki banyak nasabah yang rekeningnya lebih dari US$250.000, atau melebihi limit asuransi simpanan dari pemerintah.

Untuk mencairkan masalah ini, Bank tersebut mengatakan pada hari Senin bahwa mereka akan memangkas sebanyak seperempat dari tenaga kerjanya, dan memangkas kompensasi eksekutif dengan jumlah yang tidak ditentukan.

CEO First Republic Bank Mike Roffler, tidak banyak berkomentar soal permasalahan yang dihadapi banknya tersebut. Ia hanya mengulangi isi paparan publik dan memberi sambutan sekilas pada konferensi pers, kemarin.

“Saya ingin meluangkan waktu sejenak untuk berterima kasih kepada rekan-rekan kami atas komitmen mereka terhadap First Republic Bank dan layanan mereka kepada klien dan komunitas kami selama periode yang penuh tantangan ini,” katanya.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*