Dear Fresh Graudate, Ini Waktu yang Tepat Kirim Lamaran Kerja

Ilustrasi resume dan CV

Melamar pekerjaan adalah salah satu hal yang tidak jarang membuat sebagian orang merasa stres. Sebab, meskipun telah menyiapkan curriculum vitae (CV) serta portofolio yang dinilai sudah baik dan telah melamar di perusahaan yang sesuai, kabar baik berupa informasi lanjutan proses rekrutmen tidak kunjung datang.

Ada banyak faktor yang membuat lamaran tak kunjung mendapatkan panggilan dari perusahaan, salah satunya adalah waktu saat mengirim lamaran pekerjaan.

Lantas, kapankah waktu yang tepat untuk mengirim lamaran kerja?

COO Jobstreet Indonesia, Varun Mehta mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak ada patokan waktu yang tepat untuk mengirimkan lamaran pekerjaan.

Alih-alih menentukan kapan jam dan hari yang tepat, Varun menyarankan para pelamar untuk mengirimkan lamarannya tepat tiga bulan sebelum estimasi waktu memulai kerja. Sebab, proses rekrutmen membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Tidak ada waktu yang tepat untuk melamar [pekerjaan]. Mulai cari kerja minimal tiga bulan sebelum [estimasi] waktu bergabung dengan perusahaan,” jelas Varun kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Rabu (8/3/2023).

Sedangkan bagi pekerja yang hendak pindah perusahaan, Varun mengatakan bahwa penting untuk melamar tiga bulan sebelum resign atau setidaknya sebelum memulai pekerjaan di tempat baru karena ada beberapa proses yang harus dilakukan di perusahaan lama, seperti membicarakannya dengan atasan, Human Resource Department (HRD), dan rekan kerja.

Selain itu, ia juga menyarankan para pencari kerja, baik fresh graduate maupun yang sudah berpengalaman, untuk tidak fokus melamar di satu perusahaan.

“Alih-alih hanya melamar di satu tempat, lamarlah di dua hingga empat perusahaan. Lakukan wawancara sebaik mungkin dan tentukan mana yang terbaik dan cocok untuk Anda,” ujarnya.

Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyebutkan bahwa hari terbaik bagi pelamar untuk mengirimkan lamarannya kepada perusahaan adalah Senin. Sebab, lamaran yang dikirim pada hari kerja, terutama hari pertama dalam satu minggu akan lebih cepat mendapatkan respon dan jawaban karena berada di urutan awal lamaran yang masuk.

“Jam terbaik untuk mengirim lamaran kerja adalah jam 6 sampai 9 pagi. Bisa juga dikirim pukul 1 sampai 2 siang setelah jam makan siang para perekrut,” tulis Kemnaker melalui akun Instagram resminya (@kemnaker), dikutip Kamis (9/3/2023).

Lalu, Kemnaker menyarankan para pelamar kerja untuk mengirimkan lamarannya pada hari yang sama saat lowongan kerja dipublikasikan agar memperoleh atensi dari HRD lebih cepat.

Menkes: Masyarakat Boleh Tak Pakai Masker, Tapi Ada Syaratnya

Suasana Penumpang MRT Jakarta, Rabu (4/5/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Penggunaan masker masih menjadi satu dari sekian protokol kesehatan yang paling efektif menangkal penularan virus Covid-19. Namun, meski pandemi Covid belum dinyatakan berakhir, baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa masyarakat boleh melepas masker dengan syarat tertentu.

“Kita sudah lihat pandemi ini terkendali, masyarakat sekarang hanya diimbau prokesnya. Kalau memang masyarakat merasa sehat nggak apa-apa nggak pakai masker, tapi kalau merasa tidak sehat ya pakai maskernya,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (8/2/2023).

Menteri yang akrab disapa BGS tersebut juga menyebut bahwa pelonggaran terkait aturan masker ini merupakan langkah yang harus diambil apabila Indonesia ingin beralih status dari pandemi menjadi endemi.

Terkait hal tersebut, dia akan melobi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Maret mendatang agar status pandemi Covid-19 dicabut perlahan.

“Pandemi, kan, terjadinya global. Jadi, kita mesti melobi WHO. Saya akan datang mulai bulan Maret nanti untuk bilang Indonesia sudah beres,” sebut Budi, pada akhir Januari lalu.

Sebelumnya, Menkes juga mengatakan bahwa pemerintah akan mengembalikan kesehatan sebagai partisipasi masyarakat. Sebab, obat penangkal virus sudah tersedia. Pemerintah baru akan melakukan intervensi kepada masyarakat bila intervensi non medis belum tersedia.

“Kan, cape juga diatur. Kita balikkan menjadi partisipasi masyarakat. Endemi itu, kesehatan dikembalikan sebagai partisipasi masyarakat,” ujar Budi.

“Dulu kalo intervensi non-medisnya belum ada, kita intervensi, tapi kalau udah ada, kembalikan itu ke masyarakat. That is the best way untuk kita mengontrol penyakit yang sudah endemis,” lanjutnya.

Bill Gates Ramal Virus yang Jauh Lebih Mematikan Usai Covid

Bill Gates discusses his book

Bill Gates memberikan ramalan soal pandemi berikutnya. Jika itu terjadi, menurutnya akan datang dengan virus lebih mematikan yang bisa membunuh ratusan juta nyawa manusia.

Hal ini dia sampaikan dalam kunjungannya ke India beberapa waktu lalu. Di sana dia juga berbicara soal pelajaran yang diambil dari pandemi Covid-19.

Salah satunya terkait diagnosis lebih cepat dan produksi vaksin. Selain juga mendorong perlunya mengembangkan sistem peringatan dini secara berkelanjutan untuk mendeteksi virus baru.

“Pandemi berikutnya bisa jauh lebih fatal. Pandemi [Covid] membunuh lebih dari 20 juta, kebanyakan orang tua. Pandemi yang akan datang bisa membunuh ratusan juta,” kata Gate, dikutip dari Times of India, Kamis (9/3/2023).

Meski pandemi jauh lebih mematikan nantinya, menurutnya dunia akan jauh lebih siap. Pendiri Microsoft dan filantropis itu menyebutkan infrastruktur yang dibangun beberapa tahun terakhir akan bermanfaat di masa depan.

Dengan pengalaman selama tiga tahun, pemerintah harusnya juga jauh lebih siap menghadapi pandemi yang jauh lebih besar. Mulai dari mengeluarkan diagnosa dengan cepat hingga kejelasan untuk kebijakan yang diambil.

“Banyak dermawan berkumpul untuk membuat fasilitas perawatan pernapasan, itu cukup mengesankan. Beberapa dari infrastruktur itu akan memiliki nilai, meskipun kita saat ini berada di luar fase akut epidemi itu,” jelasnya.

Namun dia merasa masih belum siap untuk menghadapi pandemi berikutnya di masa depan. Ketua Bill & Melinda Gates foundation itu menekankan soal keberadaan alat, diagnosis yang lebih cepat, serta vaksin dan obat yang dibuat lebih cepat.

“Saya masih belum puas secara pribadi bahwa kami siap untuk pandemi berikutnya, kami punya banyak alat untuk menciptakan, kita harus mampu membuat diagnostik lebih cepat, membuat vaksin lebih cepat membuat obat lebih cepat,” imbuh Gates.

Dalam kesempatan itu pula, Gates berbicara soal cakupan vaksin Covid-19. Menurutnya India merupakan salah satu tingkat cakupan yang terbaik di dunia.

 

Lebih Ngeri dari Tank-Rudal, Rusia Gempur Ukraina Pakai Ini

Tank Ukraina bergerak ke kota, setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengizinkan operasi militer di Ukraina timur, di Mariupol, Kamis (24/2/2022). (REUTERS/CARLOS BARRIA)

Invasi Rusia ke Ukraina sudah berjalan selama 1 tahun, sejak Februari 2022 lalu. Menilik ke belakang, perang dua negara ini tidak cuma mengandalkan senjata fisik seperti rudal dan tank.

Salah satu alat tempur yang punya efek menyeramkan adalah serangan siber. Menurut penasihat NATO, Zachary Warren, serangan siber akan makin sering terlibat dalam upaya militer.

“Ke depan, kita semua akan melihat aktivitas siber sebagai taktik pembuka (pre-emptive) untuk melemahkan lawan sebelum melakukan penyerangan fisik,” kata dia, dikutip dari TheNextWeb, Rabu (1/3/2023).

Melihat ke belakang, tim peretas Rusia meluncurkan serangan siber terbesar dalam sejarah Ukraina pada 15 Februari 2022 atau beberapa hari sebelum invasi digencarkan.

Kala itu, beberapa situs pemerintah dan bank Ukraina dilumpuhkan oleh Rusia. Hal ini untuk melemahkan pertahanan Ukraina sehingga posisinya lebih rentan ketika serangan fisik diluncurkan.

Pada Januari lalu, pemerintah Ukraina mengatakan target serangan siber Rusia telah berubah selama masa perang. Sebelumnya, Rusia fokus menyerang sistem komunikasi Ukraina dengan tujuan mengganggu proses militer dan pemerintah.

Namun, setelah kekalahan pertama Rusia di garis depan, fokusnya berubah. Serangan siber berfokus untuk memberikan dampak kerusakan bagi warga sipil.

Anggota senior di agen keamanan siber Ukraina, Viktor Zhora, mengatakan bahwa serangan maya yang diterima naik 3 kali lipat dalam setahun terakhir. Pada Januari lalu, ia meminta agar kejahatan siber Rusia diidentifikasi sebagai kejahatan perang.

Kendati demikian, jaringan siber Ukraina yang digempur terus-terusan oleh Rusia nyatanya masih tetap bertahan. Hal ini tak lepas dari konektivitas yang luas ke jaringan luar negeri, serta kru perbaikan Ukraina yang kompeten.

“Serangan ini membuat kami lebih kuat,” kata Zhora. “Kami belajar banyak dari agresi siber ini,” ia menambahkan.

Banyak analis memperkirakan serangan dunia maya akan lebih umum dan punya efek kehancuran yang besar. Kepala intelijen di firma keamanan CrowdStrike, Adam Meyers, percaya bahwa Rusia mengharapkan kemenangan yang cepat.

Putin Menggila, Rusia Tembak 80 Rudal ke Kota-Kota Ukraina

Tangkapan layar yang diambil dari kamera pengintai menunjukkan sebuah ledakan mengguncang sebuah jembatan di distrik Shevchenkivskyi di ibukota Ukraina, Kyiv pada 10 Oktober 2022. (Anadolu Agency via Getty Images)

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan serangan baru ke Ukraina. Rusia menembakkan total 80 rudal ke kota-kota di seluruh Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv, Senin waktu setempat.

Ini sehari setelah Presiden Vladimir Putin menuduh sesama mantan Uni Soviet itu, sebagai dalang ledakan di jembatan utama Krimea, wilayah di Ukraina bagian selatan yang dianeksasi Rusia sejak 2014. Sedikitnya ada 19 warga sipil tewas dan 96 lainnya terluka.

“Moskow putus asa,” kata Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba merujuk serangan tersebut dikutip AFP, Selasa (11/10/2022).

“Rusia negara teroris,” kata pejabat Ukraina lain, Duta Besar Ukraina Sergiy Kyslytsya.

Serangan rudal-rudal terbaru Rusia digambarkan warga Ukraina sebagai hal yang mengejutkan. Mereka marah dengan langkah terbaru Putin itu.

“Saya melihat anak-anak dan wanita menangis,” kata seorang warga Ivan Poliakov (22).

“Saya suka Kyiv. Orang-orangnya baik, mereka berani. Tapi dalam sekejap… kematian,” tegasnya.

Warga lainnya, seorang tentara di Dnipro yang mengambil cuti demi ulang tahun istrinya mengatakan, rudal Rusia telah menghancurkan rumah mereka.

“Kami berjuang di garis depan tepat untuk melindungi tempat-tempat ini jauh dari garis musuh,” katanya.

“Tapi mereka masih berhasil memukul kami,” ujarnya lagi.

Sejak Rusia melancarkan invasi pada 24 Februari, lebih dari 7,6 juta pengungsi Ukraina telah tercatat di seluruh Eropa. Sementara hampir tujuh juta orang lainnya telah mengungsi di dalam negeri.

“Pemboman warga sipil, rumah… infrastruktur non-militer dengan cara yang tidak pandang bulu di banyak kota di seluruh Ukraina, berarti perang menjadi semakin sulit bagi warga sipil,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi Filippo Grandi kepada wartawan di Jenewa.

“Saya khawatir peristiwa pada jam-jam terakhir ini akan memicu lebih banyak pengungsian,” tambahnya.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dan negara kelompok tujuh (G7) bereaksi terkait serangan bom terbaru Rusia itu. Mereka akan mengadakan pembicaraan mendadak hari ini, bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Perdana Menteri (PM) Inggris Liz Truss, yang baru menggantikan Boris Johnson sebulan mengatakan, akan mendesak sesama pemimpin G7 agar tetap berkomitmen pada Ukraina. Dukungan internasional yang luar biasa, tegasnya, akan sangat bertentangan dengan isolasi yang tengah dilakukan Rusia di panggung internasional.

“Tidak ada yang menginginkan perdamaian lebih dari Ukraina. Dan bagi kami, kami tidak boleh goyah sedikitpun dalam tekad kami untuk membantu mereka memenangkannya,” ujarnya.

Hal sama juga dikatakan Juru bicara pemerintah Jerman Steffen Hebestreit. Ia meyakinkan solidaritas Jerman dan negara G7 lain tetap solid untuk Ukraina.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut serangan terbaru itu menandakan “perubahan besar dalam sifat perang” yang dilakukan Putin. Sementara Presiden AS Joe Biden mengutuk serangan dengan mengatakan Putin “menunjukkan kebrutalan total” dari “perang ilegal” yang dilakukannya.

AS sendiri, dalam komentar terpisah, juga berjanji akan melengkapi Ukraina lagi dengan senjata baru. Gedung Putih menyebut akan ada “sistem pertahanan udara tercanggih terbaru yang diberikan” Paman Sam.

Bukan Hanya Rusia, Ukraina Juga Ternyata Lagi Pusing soal Ini

Tentara Ukraina menembaki posisi Rusia di wilayah Kherson, Ukraina, 9 Januari 2023. (AP/LIBKOS)

Ukraina disebut-sebut mulai mengalami beberapa masalah perekrutan militer. Ini merupakan masalah klasik yang melanda Rusia sejak negara itu menyerang tetangganya tersebut.

Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengumumkan telah memblokir 26 saluran Telegram yang diduga membantu masyarakat usia militer menghindari mobilisasi pada Rabu (8/3/2023).

Berita tersebut muncul menyusul laporan The Economist pada 26 Februari yang menyebut Ukraina telah meningkatkan aktivitas mobilisasi dalam dua bulan pertama tahun 2023.

Laporan tersebut lebih lanjut memerinci bahwa mobilisasi di Ukraina telah menjadi semakin agresif. Ini terlihat dari laporan draf pemberitahuan yang dikeluarkan pada pemakaman militer dan pejabat yang berpatroli di resor ski untuk masyarakat yang menghindari panggilan wajib militer.

The Economist juga menulis dalam bahwa mobilisasi di Ukraina telah berlangsung sejak awal perang, tetapi sekarang ada perbedaan dalam hal siapa yang direkrut.

“Pada gelombang pertama sebagian besar perekrutan dilakukan secara sukarela; antrean di luar kantor wajib militer sering terlihat. Sekarang para pejabat merekrut dari kerumunan yang jauh lebih tidak antusias,” tulis majalah tersebut, sebagaimana dikutip Newsweek.

Pengumuman SBU mengenai penutupan saluran Telegram mengatakan akun tersebut memberikan informasi tentang kehadiran petugas wajib militer di berbagai komunitas untuk memungkinkan masyarakat usia wajib militer menghindari panggilan wajib militer.

Dinas Keamanan menambahkan bahwa administrator saluran Telegram diperingatkan bahwa mereka dicurigai terlibat dalam kegiatan kriminal dan dapat menghadapi hukuman 10 tahun penjara jika terbukti bersalah.

Banyaknya korban jiwa yang terjadi selama pertempuran di beberapa lokasi seperti Bakhmut dikutip sebagai salah satu alasan mengapa militer Ukraina mencari lebih banyak masyarakat wajib militer.

Alasan lain yang disebutkan adalah militer Ukraina membutuhkan lebih banyak pasukan untuk mengoperasikan masuknya senjata yang disediakan oleh sekutu Barat.

Beberapa orang Ukraina yang berharap untuk menghindari wajib militer diduga ikut serta dalam pernikahan palsu, membayar dokter untuk pembebasan medis, atau melarikan diri ke negara lain.

“Namun, keinginan untuk tindakan semacam itu turun setelah serangkaian penuntutan penghindaran draf yang dipublikasikan dengan baik,” tulis media itu lagi.

Sementara itu, militer Presiden Rusia Vladimir Putin telah berjuang untuk mengisi barisannya sejak negara itu memulai invasi ke Ukraina lebih dari setahun yang lalu. Setelah Putin pertama kali membantah menggunakan wajib militer dalam perang, kementerian pertahanannya mengakui beberapa orang wajib militer telah dikirim ke dalam konflik sejak Maret 2022.

Pada September, Rusia memanggil lebih dari 300.000 mantan tentara dengan mobilisasi pertamanya sejak Perang Dunia II. Akibatnya, lebih dari 370.000 orang Rusia meninggalkan negara itu dalam dua minggu setelah dekrit mobilisasi Putin.