Lebih Ngeri dari Tank-Rudal, Rusia Gempur Ukraina Pakai Ini

Tank Ukraina bergerak ke kota, setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengizinkan operasi militer di Ukraina timur, di Mariupol, Kamis (24/2/2022). (REUTERS/CARLOS BARRIA)

Invasi Rusia ke Ukraina sudah berjalan selama 1 tahun, sejak Februari 2022 lalu. Menilik ke belakang, perang dua negara ini tidak cuma mengandalkan senjata fisik seperti rudal dan tank.

Salah satu alat tempur yang punya efek menyeramkan adalah serangan siber. Menurut penasihat NATO, Zachary Warren, serangan siber akan makin sering terlibat dalam upaya militer.

“Ke depan, kita semua akan melihat aktivitas siber sebagai taktik pembuka (pre-emptive) untuk melemahkan lawan sebelum melakukan penyerangan fisik,” kata dia, dikutip dariĀ TheNextWeb, Rabu (1/3/2023).

Melihat ke belakang, tim peretas Rusia meluncurkan serangan siber terbesar dalam sejarah Ukraina pada 15 Februari 2022 atau beberapa hari sebelum invasi digencarkan.

Kala itu, beberapa situs pemerintah dan bank Ukraina dilumpuhkan oleh Rusia. Hal ini untuk melemahkan pertahanan Ukraina sehingga posisinya lebih rentan ketika serangan fisik diluncurkan.

Pada Januari lalu, pemerintah Ukraina mengatakan target serangan siber Rusia telah berubah selama masa perang. Sebelumnya, Rusia fokus menyerang sistem komunikasi Ukraina dengan tujuan mengganggu proses militer dan pemerintah.

Namun, setelah kekalahan pertama Rusia di garis depan, fokusnya berubah. Serangan siber berfokus untuk memberikan dampak kerusakan bagi warga sipil.

Anggota senior di agen keamanan siber Ukraina, Viktor Zhora, mengatakan bahwa serangan maya yang diterima naik 3 kali lipat dalam setahun terakhir. Pada Januari lalu, ia meminta agar kejahatan siber Rusia diidentifikasi sebagai kejahatan perang.

Kendati demikian, jaringan siber Ukraina yang digempur terus-terusan oleh Rusia nyatanya masih tetap bertahan. Hal ini tak lepas dari konektivitas yang luas ke jaringan luar negeri, serta kru perbaikan Ukraina yang kompeten.

“Serangan ini membuat kami lebih kuat,” kata Zhora. “Kami belajar banyak dari agresi siber ini,” ia menambahkan.

Banyak analis memperkirakan serangan dunia maya akan lebih umum dan punya efek kehancuran yang besar. Kepala intelijen di firma keamanan CrowdStrike, Adam Meyers, percaya bahwa Rusia mengharapkan kemenangan yang cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*