Gara-gara Ini Bursa Asia Dibuka Kebakaran

pasar saham asia

Bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Kamis (6/4/2023), di mana investor khawatir bahwa bank sentral utama masih akan bersikap hawkish kedepannya, meski data tenaga kerja di AS sudah mulai lesu.

Per pukul 08:36 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang dibuka ambles 1,01%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,65%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,37%, Straits Times Singapura terpangkas 0,48%, ASX 200 Australia turun 0,23%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,65%.

Bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas melemah terjadi di tengah lesunya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 0,24%. Namun untuk indeks S&P 500 melemah 0,25% dan Nasdaq Composite ambles 1,07%.

Indeks teknologi AS, Nasdaq Composite, jatuh karena investor beralih dari saham pertumbuhan ke saham yang lebih defensif di tengah tanda-tanda bahwa ekonomi AS melemah.

Penurunan indeks Nasdaq karena para pelaku pasar mempertimbangkan laporan gaji perusahaan swasta, yang menunjukkan pertumbuhan pekerjaan melambat pada Maret lalu.

Hal itu menyusul laporan lowongan pekerjaan pada Februari, jumlah posisi yang tersedia turun di bawah 10 juta untuk pertama kali dalam setahun terakhir.

Laporan pembukaan lapangan kerja (JOLTS) pada Februari 2023 menunjukkan lapangan pekerjaan baru yang terbuka hanya 9,93 juta. Jumlah tersebut anjlok 632.000 dibandingkan Januari 2023.

“Secara terarah, saya pikir langkah lebih tinggi masuk akal, tetapi pada saat yang sama arahnya belum jelas,” kata Angelo Kourkafas, ahli strategi investasi di Edward Jones.

Meskipun demikian, di sisi lain data tenaga kerja yang tidak sepanas sebelumnya maka harapan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) melunak.

Terlihat dari perangkat Fedwatch di mana sebesar 56,5% pelaku pasar melihat The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Mei nanti. Sedangkan 43,5% yakin bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin.

Sementara itu, imbal hasil (yield) Treasury AS turun, tetapi potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut dari The Fed berkontribusi terhadap volatilitas pasar.

Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut selaras dengan pejabat The Fed tampak masih bersikukuh jika kenaikan suku bunga masih diperlukan untuk meredam inflasi.

Presiden The Fed Cleveland, Loretta Mester mengatakan bahwa menurutnya The Fed masih perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Salah satu pendorongnya adalah harga minyak mentah dunia yang melesat didorong kebijakan OPEC+ yang akan memotong produksi minyaknya.

Dalam sepekan harga minyak acuan Brent dan jenis light sweet yakni West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 6,5%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*