Dunia Gonjang Ganjing! Ini Deretan Aset “Korban” Fed Powell

U.S. Federal Reserve Chairman Jerome Powell holds a news conference following a two-day Federal Open Market Committee (FOMC) policy meeting in Washington, U.S., September 26, 2018. REUTERS/Al Drago

Pasar finansial dunia gonjang-ganjing dalam dua hari terakhir, penyebabnya datang dari Amerika Serikat (AS). Testimoni ketua bank sentral AS (The Fed) Jerome Powell di hadapan Senat terkait suku bunga langsung direspon negatif oleh pasar.

“Data ekonomi terbaru datang lebih kuat dari yang diharapkan, ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga akhir kemungkinan akan lebih tinggi dari yang diantisipasi sebelumnya,” kata Powell dalam sambutannya di hadapan Senat AS, Selasa waktu setempat.

Powell juga menegaskan laju kenaikan suku bunga bisa kembali ditingkatkan jika diperlukan guna bisa mengendalikan inflasi.

Pelaku pasar kini melihat puncak suku bunga The Fed akan berada di kisaran 5,5% – 5,75%. Hal tersebut tercermin dari data perangkat FedWatch milik CME Group, di mana suku bunga akan mencapai level tersebut pada Juli dengan probabilitas sebesar 44,8%.

Bahkan, ada probabilitas sebesar 32% suku bunga mencapai 5,75% – 6%. Artinya ada peluang kenaikan 125 basis poin lagi dari level saat ini.

Pasar finansial pun bergejolak, berikut beberapa aset yang langsung rontok.

Emas

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas langsung anjlok hingga 1,8% pada perdagangan Selasa ke US$ 1.813/troy ons. Hingga saat ini pun harga emas masih sulit bangkit.

Logam mulia merupakan aset yang sangat sensitif dengan suku bunga di Amerika Serikat. Semakin tinggi suku bunga, harganya akan semakin tertekan. Sebabnya, emas merupakan aset tanpa imbal hasil, yang tentunya menjadi kurang menarik saat suku bunga tinggi.

Selain itu, suku bunga tinggi membuat dolar AS terus menguat. Permintaan emas berisiko menurun sebab dibanderol dolar AS dan menjadi mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Obligasi

Surat utang negara juga menjadi “korban” pidato The Fed. Terlihat dari imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 6 bulan (Treasury Bill), yang melesat naik ke kisaran 5,3%, tertinggi sejak Juli 2006.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika yield naik artinya harganya sedang turun, begitu juga sebaliknya. Saat harga turun, artinya sedang ada aksi jual.

Dengan suku bunga The Fed yang makin tinggi, maka penerbitan obligasi yang baru tentunya juga akan memberikan kupon yang lebih tinggi, sehingga pelaku pasar melepas obligasi yang beredar saat ini yang memiliki kupon dan yield yang lebih rendah.

Dampaknya tidak hanya di Amerika Serikat, negara lain juga terimbas terlihat dari capital outflow yang terjadi dari pasar obligasi.

Dari dalam negeri misalnya, sejak isu The Fed akan kembali agresif menaikkan suku bunga pada awal Februari lalu langsung terjadi aliran modal keluar dari pasar obligasi.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) sepanjang Februari aliran modal keluar mencapai Rp 7,6 triliun. Kemudian pada Maret hingga tanggal 6 sudah terjadi outflow sebesar Rp 5 triliun. Padahal pada Januari terjadi inflow nyaris Rp 50 triliun.

Saham

Bursa saham AS (Wall Street) langsung rontok pada perdagangan Selasa, meski sehari berselang mulai bisa bangkit. Selasa lalu indeks S&P 500 tercatat merosot 1,5%, dan merembet ke bursa saham dunia lainnya. Hang Seng Hong Kong misalnya yang langsung jeblok 2% kemarin.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat jeblok, beruntung mampu bangkit di menit-menit akhir perdagangan Rabu kemarin.

Kenaikan suku bunga The Fed yang lebih tinggi secara umum bisa dilihat dari dua sisi. Pertama semakin tinggi suku bunga risiko resesi akan semakin besar, hal ini akan berdampak buruk bagi pasar saham. Tetapi yang kedua, dari sisi lain semakin tinggi suku bunga hingga terjadi resesi, maka inflasi bisa segera turun.

Saat inflasi sudah terkendali, maka suku bunga bisa kembali diturunkan. Dalam jangka panjang perekonomian akan lebih baik, dan tentunya menjadi kabar bagus bagi pasar saham.

Sehingga, Wall Street sudah mulai bangkit pada perdagangan Selasa waktu setempat.

Minyak Mentah dan Komoditas Energi

Harga minyak mentah Brent anjlok hingga lebih dari 3% pada perdagangan Selasa, dan masih berlanjut 0,7% Rabu kemarin. Harga batu bara juga merosot lebih dari 3% dalam dua hari terakhir.

Komoditas energi tertekan akibat semakin menguatnya isu resesi jika suku bunga The Fed semakin tinggi. Ketika resesi terjadi, maka permintaan komoditas energi akan menurun.

Mata Uang

Sudah jelas semakin tinggi suku bunga The Fed, dolar AS akan semakin perkasa. Mata uang lainnya akan menjadi terpuruk. Rupiah misalnya, tercatat melemah 0,55% kemarin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*