Bank ke-16 Terbesar AS Kolaps, Rp 648 T Hilang

FILE PHOTO: A sign for Silicon Valley Bank (SVB) headquarters is seen in Santa Clara, California, U.S. March 10, 2023. REUTERS/Nathan Frandino/File Photo/File Photo

Bank terbesar yang memiliki urutan ke-16 di Amerika Serikat (AS), Silicon Valley Bank (SVB) resmi dinyatakan kolaps pada Jumat (10/3/2023). Bamk tersebut kolaps karena gagal mendapatkan suntikan modal dan penarikan dana dari nasabah dan investor.

Dahsyatnya, SVB bangkrut hanya 48 jam setelah berencana mengumpulkan dana sebesar US$ 2,25 miliar atau setara Rp 34,75 triliun (kurs US$ 1=Rp 15.445 untuk menambah modal pada Rabu (8/3/2023).

Bank yang berdiri pada 1983 tersebut membutuhkan suntikan modal karena banyaknya klien mereka yang menarik simpanan.

Rencana penambahan modal oleh SVB pun gagal, karena pasar khawatir melihat kondisi keuangan bank. Hingga Kamis (9/3/2023), penarikan modal dari SVB menembus US$ 42 miliar atau Rp 648,69 triliun.

SVB pun terpaksa menjual kepemilikan obligasi mereka senilai US$ 21 miliar atau Rp 324,5 triliun untuk mendapatkan dana. Sebagian besar obligasi yang dimiliki SVB adalah surat utang pemerintah AS.

Namun, dengan kondisi saat ini, penjualan bond malah membuat bank tersebut rugi hingga US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 27,8 triliun.

SVB rugi besar karena nilai obligasi tengah jatuh. Kenaikan suku bunga agresif The Fed tersebut membuat yield atau imbal hasil surat utang melonjak tajam. Sebaliknya, harga obligasi ambruk.

Sebagai catatan, harga dan imbal hasil obligasi saling bertolak belakang. Yield yang naik menandai semakin berkurangnya atau turunnya nilai surat utang.

Merujuk pada data Refinitiv, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun pada akhir Februari 2022 atau sebelum kenaikan suku bunga The Fed ada di kisaran 1,84%. Imbal hasil sudah menembus ke kisaran 3,7% pada Jumat (9/3/2023).

Persoalan bermula dari lonjakan suku bunga The Fed. Bank sentral AS tersebut mengerek suku bunga acuan sebesar 450 basis points (bps) dalam setahun terakhir menjadi 4,5-4,75%. Suku bunga tersebut adalah yang tertinggi sejak September 2007.

Pada empat pertemuan Juni, Juli, September, dan November 2022 The Fed bahkan menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 75 bps.

Sejak The Fed memberlakukan kebijakan moneter suku bunga pada 1990, The Fed tidak pernah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps selama empat kali beruntun.

Kenaikan agresif The Fed ini hanya berselang dua tahun setelah The Fed secara agresif menurunkan suku bunga karena pandemi Covid-19. Suku bunga diturunkan hingga 0-0,25% atau level terendah sepanjang sejarah

Kenaikan suku bunga The Fed yang agresif membuat rencana penawaran saham perdana (IPO) start up tertunda. Kondisi ini membuat pengumpulan dana di luar IPO semakin mahal.

Alih-alih mendapatkan modal, nasabah dan investor malah ramai-ramai menarik dana dari SVB.

Nasabah SVB, terutama startups, pun kemudian banyak yang menarik dana mereka dari SVB untuk memenuhi likuiditas mereka. Penarikan dana yang terus menerus membuat SVB goyang dan memicu kekhawatiran.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*